Petunjuk Untuk Waqf-e-Nou

Gerakan Waqf-e-Nou ini dicanangkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih IV rh pada tanggal 3 April 1987. Kata Waqf secara harfiah berarti persembahan dan tujuan dari gerakan Waqf-e-Nouini adalah agar para orang tua mempersembahkan anak-anaknya demi pertablighan Islam sejak sebelum mereka lahir. Tugas orang tua tidak selesai setelah anak ini lahir, melainkan hendaknya memastikan bahwa mereka membesarkan anak mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka hendaknya senantiasa dekat dengan Hadhrat Khalifa-e-Waqt dan menyadari tanggung jawab mereka terhadap Jemaat. Berikut ini adalah beberapa petunjuk khusus bagi para Waqifeen-e-Nou yang dikutip dari berbagai pidato Hadhrat Khalifatul Masih V aba.

Pahamilah Pentingnya Janji Kalian

“Ingatlah selalu bahwa kalian adalah bagian dari Jemaat yang mana orang tua kalian telah berjanji kepada Allah untuk mewakafkan hidup kalian bagi Jemaat dan Islam. Oleh karena itu, pahamilahselalu dan sadarilah betapa pentingnya diri kalian dan jangan pernah melanggar janji yang telah orang tua kalian buat. Dengan kata lain, orang tua kalian mengikuti contoh dari Hannah, ibu dari Hadhrat Maryam ra. Pengorbanan sesungguhnya yang beliau buat serta teladan yang beliau tampilkan sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 36 yang berbunyi:

“Ingatlah ketika perempuan ‘Imran berkata, ‘Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku telah menazarkan kepada Engkau apa yang ada dalam kandunganku untuk berkhidmat. Maka, terimalah itu dari aku; sesungguhnya, hanya Engkau-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui’.”

Kebanyakan dari kalian telah berusia lima belas tahun ke atas dan kalian telah memilih untuk memperbarui janji ini untuk mewakafkan diri kalian untuk mengkhidmati Jemaat. Untuk dapat memenuhi janji yang awalnya dibuat oleh orang tua kalian, maka kalian harus mengajukan diri secara resmi kepada Jemaat dan mewakafkan diri kalian segera setelah kalian menyelesaikan pendidikan kalian.” (Ijtima Waqf-e-Nou 2012, UK).

Memenuhi Tugas Agama Kalian

“Hendaknya kalian senantiasa menjaga shalat kalian yang menjadi ciri khas sebagai seorang Waqf-e-Nou dan hal ini menuntut kalian agar selalu mendirikan shalat lima waktu dan melaksanakannya dengan penuh khidmat dan perhatian. Kalian juga harus memberikan perhatian untuk melaksanakan shalat nafal sebanyak mungkin. Kalian harus membaca Al Quran setiap hari serta mempelajari terjemahan dan maknanya yang lebih dalam. Tidak hanya cukup dengan membaca Al Quran saja, kalian juga harus mengamalkan apa yang Al Quran ajarkan kepada kalian. Semua hal ini sangat penting bagi setiap Waqf-e-Nou. Jika kalian menjalankan dan memenuhi persyaratan mendasar yang penting untuk tarbiyat kalian ini, maka barulah kalian akan tampak sebagai seseorang yang setiap amal perbuatannya adalah demi memperoleh ridha-Nya. Kalian kemudian akan menjadi seseorang yang senantiasa menjalin hubungan sejati dengan Allah dan akan menjadi seseorang yang senantiasa benar-benar berusaha untuk memperoleh cinta-Nya.” (Ijtima Waqf-e-Nou 2012, UK).

Seorang Waqf-e-Nou Hendaknya Memberikan Prioritas Terhadap Urusan Agama daripada Kepentingan Duniawi

Ingatlahketika perempuan ‘Imran berkata, “Ya Tuhan-ku sesungguhnya aku telah menazarkan kepada Engkau apa yang ada dalam kandunganku untuk berkhidmat. Maka, terimalah itu dari aku; sesungguhnya, hanya Engkau-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran, 3:36)

Seraya menjelaskan ayat ini, Hadhrat Khalifatul Masih V aba bersabda:

“Seperti yang saya katakan secara rinci, seharusnya tidak ada anak Waqf-e-Nou yang berpikir bahwa jika mereka berjanji waqf, kemudian bagaimana mereka akan memperoleh penghasilanatau khawatir bagaimana mereka akan menjaga orang tua mereka secara finansial atau merawatnya secara fisik.Baru-baru ini saya menghadirikelas Waqf-e-Nou di sini (Toronto), ada seorang anak bertanya, “Jika dengan mendedikasikan diri, kami berkhidmat seluruh waktukami untuk Jemaat, maka bagaimana kami akan mampu merawat orang tua kami secarafinansial, fisik atau secara umum?”Munculnya pertanyaan ini merupakan ekspresi dari fakta bahwa orang tua tidakmenanamkan ke dalam hati anak-anak Waqf-e-Nou sejak kecil, “Kami telahmendedikasikan kalian (anak-anak] dan kalian hanyalah titipan dari Jemaatpada kami [orang tua]. Saudara kalian lainnya yang akan merawat kami. Kalian hanya untuk mempersembahkan diri kalian kepada Khalifatul Masih saja dan berjalan sesuaiarahan beliau.”

Dalam doa ibunda Hadhrat Maryam, kata yang digunakan محرَّراberarti, “Saya telahmemisahkan anak ini dari tanggung jawab duniawi dan berdoa bahwa tanggung jawabagama harus menjadi prioritas satu-satunya sebagai keutamaan padanya dan menjadikemuliaan baginya.”

Jadi, saya ingin menyampaikan kepada semua ibu dan bapak bahwa gelar Waqf-e-Nousaja tidak cukup. Sebaliknya, Waqf-e-Nou adalah tanggung jawab penting bagi paraorangtua sampai anak Waqf-e-Nou menjadi dewasa dan setelah itu menjadi tanggungjawabnya sendiri. Beberapa anak laki-laki dan perempuan yang sudah mendapatpendidikan sekuler, ternyata menunjukkan antusiasme yang besar dan memberikan pengkhidmatan mereka. Kemudian, tampak contoh-contoh mereka yang meninggalkanjanji Waqf yang beralasan tidak dapat bertahan hidup dengan tunjangan yang Jemaat bayarkankepada mereka. Ketika tujuan itu agung maka pasti diperlukan pengorbanan danmenanggung kesulitan. Jika sejak masa kanak-kanak ditanamkan pemikiran dalam hatipara Waqifeen bahwa tidak ada yang lebih besar dari kehidupan Waqf dan ia berpikiranbahwa kehormatan yang Allah berikan lebih utama dari harta dunawi, bukannyamemandang orang lain dengan corak materi dan berpikiran, “Si Fulan temanku sekelasdulu telah berpenghasilan ratusan ribu Rupees (puluhan juta Rupiah). Tunjangan yangkudapat sebulanan ini tidak sebanding dengan penghasilan dia selama satu hari.”

Para Waqifeen wajib menempatkan dalam pikiran mereka sabda Nabi Muhammad saw,انْظُرْإِلَىمَنْهُوَدُونَكَوَلاتَنْظُرْإِلَىمَنْهُوَفَوْقَكَفَإِنَّهُأَجْدَرُأَنْلاتَزْدَرِينِعْمَةَاللَّهِعِنْدَكَ‘unzhur ila man huwaduunaka wa laa tanzhur ila man huwa fauqaka fa-innahu ajdaru al laa tazdari ni’mataLlahi‘indaka’ - ‘Amatilah orang yang di bawahmu! Jangan mengamati orang yang di atasmu!Sebagai upaya agar tidak meremehkan nikmat Allah yang di sisimu’.” Artinya, kita harusmelihat orang yang secara keuangan lebih rendah dari kita dan melihat orang yangrohaninya lebih tinggi dari kita sehingga kita berusaha untuk melangkah lebih jauh dalamkemajuan spiritual daripada dalam kemajuan materi. Oleh karena itu, anak-anak Waqf-e-Nou, khususnya yang telah menyelesaikan pendidikan mereka, harus berupaya untukmeninggikan kondisi derajat kerohanian mereka bukannya memikirkan bagaimana meningkatkan standar materinya. Hadhrat Masih Mau’ud as mengharapkan dari setiap Ahmadi untuk memiliki derajat kerohanian yang sangat tinggi. Orang yang telah didedikasikan oleh orangtuanya untuk agama sebelum kelahiran dan orangtuanya teguh berdoa untuk dirinya juga, berapa banyak ia harus berusaha untuk mencapai standar tersebut!

(Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V aba, 28 Oktober 2016)

 

Seorang Waqf-e-Nou Hendaknya Menyediakan Waktu untuk Kegiatan Badan-Badan

Secara singkat dan jelas, saya ingin menarik perhatian ke arah hal-hal kepengurusan dan dustuurul ‘amal (garis aksi, panduan perbuatan) mereka yang mengikuti Waqf-e-Nou juga. Beberapa orang mengajukan pertanyaan dan beberapa Waqifeen memiliki kesalahpahaman tertentu dalam pikiran mereka bahwa dengan bergabung ke dalam Waqf-e-Nou, mereka punya identitas baru. Saya katakan, tidak diragukan lagi identitas dibuat, tapi dengan identitas bahwa mereka tidak akan menerima perlakuan yang luar biasa istimewa. Bahkan, mereka harus meningkatkan percepatan dan keluhuran pengorbanan mereka dengan identitas [waqf-e-nou] itu.

Beberapa orang menanamkan ke dalam pikiran anak-anak mereka yang Waqifeenbahwa mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa. Hasilnya, bahkan ketika mereka telah dewasa, pikiran 'menjadi istimewa' ini menempel pada mereka. Pertanyaan-pertanyaan dan hal-hal seperti ini telah sampai ke saya di sini juga. Mereka membuat mundur kembali esensi Waqf dan membuat gelar Waqf-e-Nou sebagai tujuan hidup mereka yaitu menjadi ‘spesial’ (istimewa).

Beberapa dari mereka telah mengembangkan ide dalam hati mereka bahwa karena mereka berada di Waqf-e-Nou, maka mereka tidak perlu menghadiri program Nasirat dan Lajnah jika mereka adalah anak perempuan, dan mereka tidak perlu menghadiri program Atfal dan Khuddam jika mereka adalah laki-laki. Mereka merasa memiliki organisasi yang terpisah. Jika seseorang memiliki pemikiran itu, maka itu adalah pendapat yang salah. Setiap pengurus, bahkan Amir Jemaat sekalipun, adalah anggota dari sebuah organisasi badan dalam Jemaat terkait sesuai dengan umurnya. Oleh karena itu, setiap anak Waqf-e-Nou, laki-laki dan perempuan harus ingat bahwa mereka adalah anggota organisasi mereka sesuai dengan usia mereka dan tugas mereka untuk menghadiri program organisasi badan tersebut.

Jika seseorang tidak hadir, maka ketua organisasi [badan-badan] terkait harus melaporkan tentang dia. Jika anak Waqf-e-Nou itu tidak membaik, maka anak seperti itu, anak laki-laki atau perempuan  akan dihapus dari gerakanWaqf-e-Nou.

(Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V aba, 28 Oktober 2016)

 

Bidang Apa yang Hendaknya Dikejar oleh Para Waqifeen-e-Nou

Seperti yang saya katakan bahwa setelah melalui fase yang berbeda dari pendidikan agama dan sekuler, [para Waqifeen Nou] mintalah panduan kepada Jemaat, apayang harus Anda ikuti bukannya memutuskan sendiri. Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa anak laki-laki Waqf-e-Nou, harus memberikan prioritas pertamanya dengan melanjutkan studi ke Jamiah untuk menjadi Murabbi atau Muballigh. Ini adalah kebutuhan zaman. Jemaat terus berkembang. Jemaat baru terbentuk tidak hanya di negara-negara dimana Jemaat lama telah didirikan, bahkan Allah menganugerahkan Jemaat di negara-negara yang baru juga, dan Jemaat sedang didirikan di sana. Dan di setiap negara, kita membutuhkan Murabbi dan Muballigh dengan jumlah yang besar.Kemudian, kita memerlukan dokter-dokter untuk rumah sakit kita. Di Rabwah, Pakistan, kita perlu banyak dokter yang memiliki spesialisasi di bidang yang berbeda. Dokter-dokter diperlukan untuk rumah sakit di Qadian. Jika ada dokter-dokter non-Waqf-e-Nou mendengarkan Khutbah saya yang tidak bisa dikirim ke tempat-tempat ini, maka mereka hendaknya memberikan perhatian kepada anak-anak waqf-e-Nou di negara mereka untuk menjadi spesialis. Kita memiliki sangat sedikit spesialis. Dokter-dokter yang diperlukan di Afrika di segala bidang. Seperti kita sedang membangun sebuah rumah sakit besar di Guatemala, para dokter dibutuhkan di sana dan mereka bisa pergi ke sana dari Kanada. Di sini, ada kebutuhan akan dokter yang akan meningkat di masa depan. Indonesia membutuhkan dokter-dokter, dan kebutuhan ini tumbuh diiringi dengan perluasan Jemaat. Anak-anak Waqf-e-Nou yang ingin menjadi dokter, setelah mendapat pendidikan lebih tinggi dan spesialisasi, harus maju ke depan dan pergi ke negara yang mudah dikunjungi. Persembahkanlah diri kalian dan Jemaat akan menugaskankalian. Demikian pula, sekolah-sekolah memerlukan guru. Anak laki-laki dan perempuan dapat bekerja sebagai dokter dan guru. Oleh karena itu, perhatikan hal ini. Ada juga kebutuhan akan arsitek dan insinyur yang ahli dalam membuat bangunan sehingga perencanaan dan pengawasan yang tepat dapat diberikan pada pembangunan masjid, rumah misi, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain, yang akan menghemat dana Jemaat, fasilitas yang lebih baik akan dapat dihasilkan dengan biaya lebih rendah. Ada juga kebutuhan akan staf paramedis, jadi [Waqifeen] juga harus memasuki bidang ini. Dengan demikian, ini adalah beberapa bidang penting yang saat ini dibutuhkan Jamaat. Di masa depan, kebutuhan akan menyesuaikan dengan keadaan.”

(Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V aba, 28 Oktober 2016)

 

Kita Perlu Waqifeen dalam Bidang Penelitian Ilmiah

Beberapa Waqifeen-e-Nou lebih tertarik pada bidang-bidang tertentu, dan ketika mereka bertanya kepada saya, dengan mempertimbangkan minat mereka, saya mengizinkan mereka untuk belajar [di bidang tertentu itu]. Tetapi di sini saya ingin memberi tahu siswa bahwa mereka harus mengejar berbagai bidang penelitian ilmiah — dan ini termasuk Waqifeen-e-Nou dan siswa lain. Jika kita menghasilkan ilmuwan terbaik di berbagai bidang penelitian ilmiah, maka di masa depan Muslim Ahmadi akan menjadi orang yang memberikan pengetahuan agama. Dan di mana dunia akan membutuhkan Anda untuk pengetahuan agama, mereka juga akan membutuhkan Anda untuk pengetahuan sekuler. Dalam konteks ini, Waqifeen-e-Nou akan memiliki pekerjaan sekuler, tetapi tujuan pekerjaan dan pengetahuan mereka adalah untuk menunjukkan Keesaan Tuhan Yang Maha Esa dan penyebaran agama-Nya.

(Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V aba, 28 Oktober 2016)